Selasa, 20 Agustus 2013

TWO WORDS
            “SELAMAT PAGI”. Yah itulah dua kata yang selalu ku ucapkan ketika mataku terbuka dan terbangun dari mimpi malamku. Aku tau tak seorang pun mendengarnya, walau terlihat ribuan langkah kaki berkeliling di sekitarku. Tapi tak apalah, dua kata yang begitu sederhana menjadi cahaya semangat bagiku tuk mengawali hari-hari di hidup ini.
            Sunyi, sepi dan sendiri selalu terasa di hidupku. Berada di bawah sebuah ranting pohon yang ringan. Terperangkap dalam ruangan kecil tanpa cahaya. Tak banyak yang bisa kulakukan, sekedar tuk melemaskan otot-ototku pun begitu sulit rasanya. Hanya dua kata yang mampu menompang diri berada disini “SABAR dan YAKIN”
            Begitulah, ini adalah tahap kehidupan yang mesti ku lalui. Dimana ku harus menahan keegoisan dan ketidakpedulianku dalam wujud lama menjadi wujud yang berbeda. Inilah aku, seekor ulat yang harus melewati ujian akhir untuk menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Memang sulit dan butuh waktu untuk mewujudkannya. Namun percayalah, keyakinan dan kesabaran akan mewujudkan semua keinginan.
            Oh yah… ku teringat cerita pendahuluku waktu itu. Mereka bilang, untuk lulus ujian pada tahap akhir ini perlu kerja keras, sabar, disiplin dan pasrah kepada pencipta.
“Ehmmm… sepertinya semua itu mesti ku lakukan”. Gumamku
Semua tak berjalan mulus seperti yang ku kira. Banyak rintangan yang datang dikala ku mulai mencoba. Awalnya ku tersenyum, ketika anak-anak lucu itu mau bermain di dekatku. Tawa dan lelucon mereka seakan mengajakku tuk bermain bersama mereka.
Namun, semua itu awal dari sebuah masalah. Ku tau mereka tak berniat menggangguku, namun bola itu selalu mengarah ke pohonku, menggoyangnya dan meruntuhkan sebagian ranting-ranting dan daun dari pohonku ini. Memang pohonku tak begitu besar. Makanya, mereka tak pernah menganggap pohonku ini ada. Apalagi aku, kecil, putih dan tergantung disalah satu rantingnya. Tak kan terlihat oleh mereka.
“Pusing…” Teriaku
Itulah yang kurasakan setiap kali bola itu datang menghantam pohonku. Sebenarnya ku ingin marah dan berkata, aku ada disini. Namun, semua itu tak bisa ku lakukan, hanya kesabaranlah yang mesti kutanamkan dalam hati ku ini.  
Hari demi hari kulewati dengan aneka ragam masalah yang berbeda. Yah inilah hidup, ketika ku ingin sempurna ku harus lewati masa-masa suram dahulu. Hari ini tak banyak berbeda dari hari kemarin. Hanya saja, anak-anak waktu itu tak sama dengan hari ini. Kali ini seeorang anak perempuan yang cantik, duduk disebelah pohon tempat tinggalku. Ia sedang bermain dengan boneka barbienya yang lucu. Awalnya aku senang, ketika ia datang dan menemaniku dikala aku mulai kesepian. Namun karena bentukku yang lucu, sepertinya ia ingin menyentuhku. Merasakan begitu hangatnya selimut putih di tubuhku yang mungil ini.
“Tuhan, semoga ia menjadi sahabatku dikala aku selalu merasa kesepian dan dikala ku merasa bahagia.” Doa ku
Tiba-tiba ia semankin mendekat, melihatku dan mencoba ingin menyentuhku. Tapi matanya seakan tak tega, mendekatkan jari-jari mungilnya ke tubuhkku ini. Ia pun mencoba menahan ketika jari-jari itu hampir mendekatiku.
“Barbie, ini apa yah. Kenapa ia bergantung disini, sendirian lagi.” Tanya anak perempuan itu pada barbienya.
            Lalu anak perempuan itu pergi dari hadapanku, dan mencoba menanyakan kepada kakaknya tentang diriku.
            “Kakak, ini apa?” Tanya anak itu pada kakaknya
“Ini bukan apa-apa dek, hanya kapas yang telilit di ranting pohon.” Jawab kakak anak perempuan itu.
“Tapi, sepertinya ia hidup kak.” Sanggah anak perempuan itu
“Ini nggak penting, lebih baik kamu pulang dan main saja dengan Barbie mu sana.” Tegas kakaknya
Ia pun pulang kerumah dan sekilas membalikkan kepalanya ke arahku. Seakan ia ingin mengucapkan selamat tinggal padaku.
Keesokan harinya ia datang lagi kemari. Membawa kertas yang penuh dengan coretan gambar dari tangganya. Di dalamnya terlukis indah gambarku yang tergantung di ranting pohon ini.
“Apakah dia tau sekarang siapa aku?” Tanyaku
Yah dia tak mungkin mendengar, tapi hanya naluri yang bisa menjawab semua pertanyaanku tentang dirinya.
“Dek, kamu disini. Mama cari kamu terus. Makan dulu sana ada ambon ayam, kesukaanmu.” Seru kakaknya
“Nggak aku mau disini, aku nggak mau pergi.” Jawab anak perempuan itu dengan tegas.
“Apa sih yang menarik dari kapas ini. Bentuknya pun nggak jelas. Menjijikan tau. Kalau adek nggak percaya, bongkar aja kapas itu”. Teriak kakaknya
Air mataku pun jatuh, membasahi tubuh ini yang sebentar lagi akan berubah wujud. Memang tak ada yang menyadari hidupku saat ini. Di tengah perjuangan, melawan takdir yang telah tergoreskan hanya untuk menjadi wujud yang sempurna. Berharap seseorang tlah menungguku disana, namun sepertinya tak ada. Mungkin, hanya alam lah yang menyaksikan perubahan wujudku kali ini.
Waktu yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Selimut putih yang sekarang berubah penuh warna tlah menampakkan sayap indahku yang masih terikat dalam kulit kepompong. Ku coba membuka kulitnya dengan susah payah, hati-hati dan sedikit rasa sakit dan pedih bila kurasakan. Namun ku coba yakin dalam hati bahwa ini semua akan segera berakhir. Sedikit demi sedikit sayapku tlah memecahkan kulit lamaku dan akhirnya…..
            “TERIMA KASIH” itulah dua kata yang ku ucapkan pertama kali disaat sepasang sayapku tlah menunjukkan keindahannya. Air hujan yang semalam jatuh, masih tergenang di tanah yang cokelat ini. Air itu menjadi cermin pertama yang membuatku tau bahwa begitu cantiknya diriku saat ini. Goresan warna-warna yang indah terlukis di sayapku. Seakan menunjukkan kepadaku, betapa besar karunia-Nya pada makhluk kecil sepertiku.
“Tuhan, inikah aku. Begitu cantiknya diriku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah melukiskan paduan warna alam di sepasang sayapku ini. “ Syukurku.

Tiba-tiba anak perempuan waktu itu datang kembali, berlari menuju sisa kulit kepompongku yang masih tergantung di ranting pohon itu.
“Mana yah, kenapa jadi gini. Siapa sih orang yang tega merusak makhluk yang tak berdosa ini .” Tangis anak perempuan itu.
Aku pun terbang menuju anak perempuan itu. Hatiku tak tega, ketika melihat ia bersedih. Aku sadar hanya ia yang mengerti aku, walau sebenarnya ia tak mengenalku. Aku pun turun menuju jari-jari mungil tangan anak itu. Ia pun terkejut dan serentak menghempaskanku dari jari tangannya.
“Maaf kupu-kupu aku terkejut. Kenapa kamu disini, kamu datang dari mana. Kemarin aku tak melihatmu disini.” Tanyanya dengan lembut.
Andai aku bisa bicara dengan anak perempuan itu, betapa ku ingin mengatakan inilah aku. Aku, si makhluk kecil yang dulu terkurung oleh selimut putih yang tebal ,tergantung di ranting pohon itu dan sekarang tlah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Tapi semuanya tak mungkin terjadi, mungkin hanya Tuhan yang dapat menyatuhkan kami kembali.
Tiba-tiba datang seorang makluk sejenis anak itu yang ia panggil mama.
“Mama, mana putih-putih yang tergantung disini. Ia hilang ma.” Tanyanya dengan sedih.
“Adek, ini kepompong namanya. Dulu ia memang tinggal disini, tapi sekarang ia telah pergi dan berubah menjadi kupu-kupu yang indah.” Jawab mamanya
“Jadi, kupu-kupu itu sahabatku ya ma.” Serunya.
“Tuhan, maafkan aku. Tolong sampaikan padanya, betapa cantiknya ia dengan wujudnya yang baru saat ini.” Gumamnya dalam hati.
Anak perempuan itu pun tlah mengenalku. Aku senang sekarang ia tau kalau inilah aku, sahabatnya yang telah berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Oh yah di akhir pertemuan ini, ku ingin ucapkan dua kata untuknya “SELAMAT TINGGAL”, walau ku tau ia tak akan mendengarnya. Namun aku yakin, Tuhan kan menyampaikan padanya bahwa aku sangat bersyukur ketika aku pernah menemukan makhluk lucu sepertinya.

“Moy-moy”






OWL


Gelap Namun Terlihat

            Dari ufuk Timur, sinar mentari telah menampakkan diri kehadapanku. Udara yang sejuk menambah damainya alunan suara, si raja pagi. Aku segera putuskan pulang ke rumahku. Lambaian ranting mahoni dan lincahnya daun hijau pun menandakan rumahku tlah di depan sana.
Lorong -lorong tanpa cahaya menemaniku menuju ruang istimewa. Tubuhku yang letih, mengajakku tuk beristirahat sejenak. Semalam yang penuh dengan petualangan, membuat tulang-tulangku rapuh untuk bergerak. Suara jeritan makhluk berakal masih terngiang di telingaku dan garis-garis wajah mereka, yang melukiskan ketakutan akan kehadiranku, masih memenuhi alam bawah sadarku. Masih terbayang, ketika makhluk berakal itu berbisik dan mencoba mengusirku dari hadapannya. Beginilah hidupku, ditakuti oleh mereka tanpa ku tau apa sebabnya. Tapi tak apalah, aku yakin akan datang kebenaran di balik semua kesalahpahaman ini.
Sepertinya tidurku begitu panjang kali ini. Menghabiskan waktu untuk melemaskan otot-ototku yang tegang di malam hari. Tapi semua berakhir, ketika batang mahoniku tersentak bergoyang. Aku pun terkejut dan tersentak jatuh dari tempat tidurku.
“Apa yang terjadi?”, gumamku.
Ternyata hanya sahabatku, Mogi. Si pengganggu yang hanya mau mengajakku bermain bersamanya. Seperti biasa, ia memanggilku Owl. Hasratku yang menggebu-gebu membuatku tak sabar untuk terbang tinggi mengepakkan sayapku di langit yang hampir senja ini. Hembusan angin membawa kami terbang melewati satu demi satu pohon mahoni yang seakan menyapa kami.
“Hei owl, kita bertarung. Siapa yang duluan ke pohon raksasa itu ia pemenangnya”. Seru mogi.
“Siapa takut.” Jawab Owl.
Kami mulai terbang menuju pohon raksasa di hutan ini. Sebenarnya aku tau, Mogi yang pasti duluan ke sana. Ku akui, ia adalah penerbang yang hebat. Namun, tiba-tiba ku mendengar suara teriakan sahabatku itu.
“Tolong…. lepaskan aku.” Teriak Mogi ketakutan
“Mogi, dimana kamu?” tanyaku berulang kali.
Dari rimbunnya daun mahoni, kulihat ternyata Mogi tlah terperangkap dalam sangkar emas yang sengaja diletakkan makhluk berakal di atas pohon raksasa itu. Raut wajah yang awalnya penuh dengan senyuman menghilang seketika. Tubuhku pun serasa kaku, ketika melihat Mogi di sangkar itu sendirian dan sepertinya,ia akan pergi bersama makhluk berakal itu ke suatu tempat yang asing bagi kami. Aku bingung, apa yang mesti ku lakukan saat ini. Semuanya begitu tak meyakinkan bagiku. Namun, ku terus tegaskan diriku tuk pergi mengikuti mereka.
Matahari yang kembali ke ufuk barat, membuat langit menjadi gelap. Seakan, mereka tau ketakutan yang terpendam di hatiku saat ini. Mengendap-endap di balik pohon, yang tak terlihat oleh mereka dikala malam mulai datang.
“Mau kemana kah ini??” Tanyaku dalam hati.
            Tak ada yang menjawab, hanya terdengar suara angin yang menggesek daun hitam dan jangkrik yang bernyanyi kegirangan. Ya sudah, ku terbang terus mengikuti Mogi dan Makhluk itu agar tak kehilangan jejak.
Suasana malam yang gelap dan dingin membuat perutku lapar. Namun, jika ku berhenti sejenak, aku akan ketinggalan tapi jika perutku kosong, ku tak bisa terbang.
            “ Apa yahh, makan atau terbang?” Tanyaku sendiri
            “ Terbang ajalah mungkin nanti ada makanan” Gumamku
            “Tapi kalau nggak makan nggak bisa terbang nih” Jawabku sendiri
            Tiba-tiba feeling ku berkata seekor hewan bewarna putih dan kecil ada di depan sana. Ternyata benar, ada seekor tikus mungil yang ingin segera ku santap. Tapi, kraaakkkk……., terdengar suara yang tergesa-gesa dari belakangku. Ku terkejut, ternyata ku terperangkap dalam sangkar lain makhluk berakal itu.
“ Gawat ini, apa yang mesti ku lakukan. Aku nggak mau terkurung disini, apalagi menjadi binatang rumahan mereka. Ihhh, envy bener kalau itu terjadi.” Gumamku
Namun tiba-tiba, terlihat makhluk berakal itu menemui seorang anak yang lucu.
“Papa, papa apa itu?” tanyanya dengan lugu.
“Ini namanya burung hantu.” Jawab makhluk berakal itu dengan lembut.”
“Papa, burungnya ada dua yah, untuk apa? saya mau satu papa.” Pintanya
Lalu sangkarku diberikan kepada anak kecil itu. Ia mengajakku bermain dengan girangnya. Awalnya aku takut bertemu dengannya, tapi ia lah malaikatku. Ia memberi tau ku cara keluar dari kurungan ini. Karena hari yang semakin malam, anak kecil itu pun tertidur dihandapanku. Beruntungnya, ia lupa menutup pintu utama kurungan ini. Ketika keluarga makhluk berakal itu mulai memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpinya, aku segera beraksi. Ku hepakkan sayapku keluar dari kurungan ini dan segera mencari Mogi untuk menyelamatkannya.
Ketegangan yang terjadi malam ini membuat jantungku berdetak lebih kencang, tak seperti biasanya. Namun sedikit terendam, ketika ku menemukan sahabatku, Mogi.
“ Mogi, aku disini.” Panggilku dengan pelan.
“Owl…..” Teriaknya
“Hushhh.. diam jangan berisik nanti mereka bangun.” Kataku
Dengan buru-buru ku coba lepaskan Mogi dari sangkar emas ini. Ku coba hentakkan kaki ku ke pintu sangkar itu dan ternyata tidak bisa. Ku coba berpikir sejenak dan mencari tau cara yang tepat. Tiba-tiba tak sengaja, Prakkkk,,, sebuah pas bunga jatuh.
“ Siapa itu?” Teriak makhluk berakal.
“ Owl, cepat sebelum makhluk itu datang.” Teriak Mogi kepada ku
Tersentak ku teringat ketika anak kecil itu membukakan pintu sangkarku. Aku segera menggunakan kaki dan paruhku tuk mengangkat kayu kecil sebagai penghalang pintu sangkar ini. Terdengar suara hentakkan kaki makhluk berakal itu menuju ke arah kami. Ku keluarkan semua tenagaku demi Mogi, agar ia bebas dari kurungan ini. Syukurlah, pintunya terbuka. Namun, makhluk berakal itu sudah berada tepat dibelakang kami dengan membawa benda yang mengeluarkan biji besi panas. Segera kami kepakkan sayap dan terbang menjauh dari tempat itu dengan hati yang cemas.
“ Gawat, burungnya terbang.” Teriak makhluk berakal itu.
Door….doorrr… tembakkan peluru menghantam kepergian kami. Makhluk berakal itu pun mengejar kami di tengah malam yang penuh dengan kegelapan. Untunglah, kami bisa melihat dikala mereka tak bisa melihat. Malam yang begitu gelap membuat mereka sulit menemukan kami.
“Uhhhhh,, selamat.” Gumam Mogi.
Kami pun memutuskan untuk segera pulang sebelum malam meninggalkan langit. Beruntungnya lagi, aku tau jalan pulang. Yahh begitu lah, aku memang burung yang pintar. Ku jatuhkan kotoranku di setiap jalan sebagai tanda ku pernah melewatinya. Begitulah, aromanya yang khas membuat ku tau inilah jalan yang pernah ku lewati sebelumnya.
Di penghujung malam ini, kami temukan hutan mahoni. Hutan yang begitu nyaman bagi kami dan keluarga kami. Walau tak sampai 24 jam, aku sangat merindukan rumahku ini, apalagi kamarku. Disana lah ku habiskan waktu siangku tuk menghilangkan kepenakan di waktu malamku.
Ayam jago pun mulai berkokok tanda malam tlah berakhir. Segera ku lemaskan oto-otot sayapku di atas kasur dan mulai memejamkan mataku. Melupakan semua petualangan yang terjadi semalam dan berharap semua akan ada hikmanya. 

“Moy-moy” 

Sabtu, 02 Maret 2013

Smilaugh (smile and laugh)

Senyum dan tawa adalah dua saudara yang beda,
Tak kan terpisahkan karena kebencian dan permusuhan,

Senyum dan tawa mengisyaratkan sebuah kisah,
Kisah asmaranya di putih abu-abu,

Senyum tertawa disaat tawa mulai tersenyum,
Teringat cerita indah yang takkan terlupakan,

Tapi, tawa pun pergi saat senyum telah terganti!
Mata melukiskan kerinduan antara dua insan yang mencintai

Tawa pun tersenyum disaat senyum menangis,
Tak terlihat namun terasa di hati,

Saat tawa tersenyum, senyum pun bahagia,
Tapi hati berharap senyum kan tertawa bersama tawanya.


By : emmy_moy

Rabu, 05 Desember 2012

Kisah Gadis Bersama Sang mentari

Saat mentari pagi belum menampakkan cahayanya dan letingan suara ayam jago pun belum terdengarkan, seorang gadis remaja terbangun dari tidurnya. Seketika gadis itu terbangun dari tidurnya, ia tak sengaja tenggelam dalam renungannya. ia tak sengaja teringat pada seorang teman yang sangat beharga untuknya. Yah gadis itu hanya terdiam dikesunyian pagi yang gelap. Lalu ia mencoba melanjutkan tidurnya, namun ia tak mampu memejamkan matanya. Bayangan-bayangan sahabatnya tlah menghantui dirinya. Lalu Gadis itu mencoba mendengarkan alunan lagu yg bisa mengantarkannya ke dalam tidur yang damai. Tiba-tiba  sebuah lagu telah membuat air matanya jatuh. suara penyanyinya seperti suara sahabatnya. Gadis itu pun langsung terdiam dan hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya. Yah Hati gadis itu berkata kalau sahabatnya sedang menyanyikan lagu itu untuk dirinya. Tapi Gadis itu terus mengelak, ia berpikir tak mungkin semua itu terjadi. Apalagi saat itu masih pagi dan mungkin sahabatnya masih lelap dalam tidurnya. Lalu sang gadis hanya mendengarkannya saja dan tak menghiraukan lagi siapa yang sedang bernyanyi. Namun tak tau mengapa gadis itu berkata lirik lagu tersebut sangat mengisahkan kehidupan mereka berdua. Yah sebenarnya Gadis dan sahabatnya itu dulu adalah teman yang begitu dekat. Setiap hari sahabatnya selalu memberi gadis itu semangat, selalu tersenyum kepada gadis itu, memuji gadis itu, dan terus menghibur gadis itu. Bagi sang gadis ia adalah sahabat pertama yang sangat ia rindukan. Begitulah ia tak tau dimana sahabatnya itu, sebenernya ia begitu dekat dengan gadis itu, tapi gadis itu merasa itu bukanlah lagi sahabat yang ia kenal dulu. Sahabatnya telah berubah, sekarang ia tak lagi memberi gadis itu semangat, tak lagi tersenyum kepadanya, dan tak lagi menegurnya, bahkan gadis itu merasa sahabatnya telah membencinya. Gadis itu menyesal karena ia merasa ini salahnya, ia yang membuat semua ini terjadi. Dulu gadis itu begitu takut dan egois untuk membalas teguran dan senyumannya. Tapi gadis itu tau semuanya tak bisa kembali, sekarang gadis itu hanya bisa mencoba dan terus mencoba untuk membuat sahabatnya memaafkan segala kesalahan yang tlah ia perbuat dan mencoba mengembalikannya seperti sahabat yang ia kenal dahulu. Lalu gadis itu berdoa kepada Tuhan,, *Tuhan, jika sahabatku mendengar kata hatiku ini, aku hanya ingin berkata <MAAF> kepadanya, mungkin baginya ini tak cukup, tapi andai dia tau hatiku sebenarnya aku hanya ingin dia tau kalau aku sangat merindukannya, merindukan suaranya ketika bernyanyi dan memanggil namaku, merindukan senyumannya yang dulu, dan merindukan lelucon yang ia berikan untukku. Tuhan tolong sampaikan padanya bahwa aku ingin dia tau, sebenarnya ketika aku berada didekatnya, ketika aku berpapasan dengannya, hatiku terus membujukku untuk menegurnya dan tersenyum padanya. Tapi aku tak pernah berani melakukannya. Tuhan tolong sampaikan padanya, bahwa siapa pun anggapan dia untukku, tapi bagiku ia adalah sahabat terbaik yang rak akan pernah aku lupakan. Sahabat yang sangat aku merindukan dirimu. Semoga keajaiban datang padaku dan suatu saat aku akan selalu mendengra suara itu memanggil dan bernyanyi untukku. Terima kasih untuk segala hal yang telah kau lakukan selama ini. Aku menyesal tlah menyia-nyiakannya dahulu.*  Yah itulah doa sang gadis di pagi yang sunyi itu. Ketika air matanya terus mengalir suara adzan pun mulai berkumandang. Lalu ia pun segera bangun dari tidurnya dan mulai bergegas untuk segera berangkat ke sekolah dan berharap di sekolah nanti ia akan bertemu dengan sahabatnya yang tlah kembali seperti yang ia kenal dahulu.

Minggu, 16 September 2012

Hanya Sebuah Karangan

Hanya Sebuah Karangan, Hehehehe
Selamat Membaca
**********

     Taukah kamu, kadang kita tak pernah menyadari setiap detik, menit, jam bahkan hari akan kita lewati dengan segala sesuatu yang pasti berbeda dengan hari kemarin. Kita akan menemukan hal-hal yang baru di setiap harinya, seperti pengalaman, kisah, cerita bahkan perasaan yang berbeda pula. Yah begitulah kehidupan, tak ada manusia yang bisa menebaknya. Tapi kamu mesti tahu kalau kita ini diibaratkan sebagai seorang sutradara, maka hanya diri kitalah yang bisa mengatur kehidupan itu agar ia memiliki arti sebenarnya.
    Kehidupan tak selamanya menyenangkan karena suatu saat waktu itu kan datang. Waktu dimana sebuah kesedihan mulai berada di hadapan kita. Misalnya disaat sebuah kesenjangan terjadi antara kamu dan dia yang mengalami sebuah masalah namun kamu sendiri tak tau apa masalahnya. Mungkin saat itu kamu berpikir apa yang sedang terjadi, menggali semua kisah-kisah terdahulu yang mungkin tak sengaja kamu meninggalakan sebercik noda yang membuatnya berbeda dari yang kamu kenal dahulu. Yah dirinya yang memang sangat mengerti kamu, memahamai dirimu yang sebenarnya, dirinya yang selalu memberimu semangat. Namun sampai sekarang kamu pun tak pernah terpikirkan apa sih masalanya. Mungkin disaat kamu terus mencari inti masalah yang sedang terjadi, dirinya pun terus menjauh darimu dan kamu tak tega dan takut untuk menegurnya. Apakah saat ini kalian saling menjauhi satu sama lain, dak tak pernah bertegur sapa lagi ataupun ketika bertemu hanya menundukkan kepala dan berpura-pura tidak mengenal satu sama lain lagi. Yah kamu harus bersabar menghadapinya walau perasaanmu sangat sedih ketika melihat dirinya dengan segala hal yang berbeda.
    Taukah kamu, mungkin saat ini dirinya lah yang heran apa yang telah berubah dari dirimu yang ia kenal dulu, aku tau sebenarnya kamu sangat berharap dia akan tau bahwa kamu disini selalu memikirkan dirinya, memikirkan kemana dirinya yang dulu ataupun mendoakannya agar dia menyadari semua yang sedang kamu rasakan. Mungkinkah kamu pernah merasakan kerinduan kepadanya, merindukan kata-kata yang ia ucapkan untuk membangkitkan semangatmu lagi atau kamu sekarang sangat takut dengan kehadiran dirinya dan akan segera pergi ketika kamu mendengar suaranya.
  Sebenarnya taukah kamu sebuah masalah itu takkan pernah berakhir ketika kamu ataupun dirinya tak ada yang mengalah. Mungkin saat ini kalian tidak saling menyadari kesalahan yang kalian masing-masing telah lakukan. Mungkin tanpa sepengetahuanmu dirinya pun telah banyak mencoba membuat dirimu kembali seperti yang ia kenal, tapi kamu masih sangat egois dan tak pernah menyadari usaha yang telah ia lakukan. Sebenarnya saat ini dirimu lah yang harus lebih peka dengan keadaan yang sedang kamu alami dan saatnya kini kamu harus melenyapkan egoismu. Sekarang waktunya kamu yang harus berusaha mengubah semuanya. Cobalah kamu menyapanya sebentar saja atau kamu bisa tersenyum kepadanya. Yah kamu mesti melakukannya walaupun di dalam hatimu yang paling dalam masih ada keraguan itu. Tapi tetaplah untuk mencoba tersenyum kepadanya disaat dirinya tak pernah menyadari betapa besar keinginanmu agar dirinya  bisa membalas senyummu. Mungkin usahamu pada awalnya belum mendapatkan jawaban yang pasti tapi sesungguhnya kamu harus tetap mencoba dan terus mencoba sampai suatu saat nanti disetiap harimu ia akan tersenyum padamu, menyapamu dengan keikhlasan hatinya, dan kembali seperti dirinya yang dulu bahkan lebih baik dari dirinya yang dulu dan yang paling utama ia akan selalu memberikan semangat kepada dirimu agar perjalanan hidupmu penuh kedamaian. 
 *********


  THANKS (^_^)