Selasa, 20 Agustus 2013
OWL
Gelap Namun Terlihat
Dari ufuk Timur, sinar mentari telah menampakkan diri kehadapanku. Udara yang sejuk menambah damainya alunan suara, si raja pagi. Aku segera putuskan pulang ke rumahku. Lambaian ranting mahoni dan lincahnya daun hijau pun menandakan rumahku tlah di depan sana.
Lorong -lorong tanpa cahaya menemaniku menuju ruang istimewa. Tubuhku yang letih, mengajakku tuk beristirahat sejenak. Semalam yang penuh dengan petualangan, membuat tulang-tulangku rapuh untuk bergerak. Suara jeritan makhluk berakal masih terngiang di telingaku dan garis-garis wajah mereka, yang melukiskan ketakutan akan kehadiranku, masih memenuhi alam bawah sadarku. Masih terbayang, ketika makhluk berakal itu berbisik dan mencoba mengusirku dari hadapannya. Beginilah hidupku, ditakuti oleh mereka tanpa ku tau apa sebabnya. Tapi tak apalah, aku yakin akan datang kebenaran di balik semua kesalahpahaman ini.
Sepertinya tidurku begitu panjang kali ini. Menghabiskan waktu untuk melemaskan otot-ototku yang tegang di malam hari. Tapi semua berakhir, ketika batang mahoniku tersentak bergoyang. Aku pun terkejut dan tersentak jatuh dari tempat tidurku.
“Apa yang terjadi?”, gumamku.
Ternyata hanya sahabatku, Mogi. Si pengganggu yang hanya mau mengajakku bermain bersamanya. Seperti biasa, ia memanggilku Owl. Hasratku yang menggebu-gebu membuatku tak sabar untuk terbang tinggi mengepakkan sayapku di langit yang hampir senja ini. Hembusan angin membawa kami terbang melewati satu demi satu pohon mahoni yang seakan menyapa kami.
“Hei owl, kita bertarung. Siapa yang duluan ke pohon raksasa itu ia pemenangnya”. Seru mogi.
“Siapa takut.” Jawab Owl.
Kami mulai terbang menuju pohon raksasa di hutan ini. Sebenarnya aku tau, Mogi yang pasti duluan ke sana. Ku akui, ia adalah penerbang yang hebat. Namun, tiba-tiba ku mendengar suara teriakan sahabatku itu.
“Tolong…. lepaskan aku.” Teriak Mogi ketakutan
“Mogi, dimana kamu?” tanyaku berulang kali.
Dari rimbunnya daun mahoni, kulihat ternyata Mogi tlah terperangkap dalam sangkar emas yang sengaja diletakkan makhluk berakal di atas pohon raksasa itu. Raut wajah yang awalnya penuh dengan senyuman menghilang seketika. Tubuhku pun serasa kaku, ketika melihat Mogi di sangkar itu sendirian dan sepertinya,ia akan pergi bersama makhluk berakal itu ke suatu tempat yang asing bagi kami. Aku bingung, apa yang mesti ku lakukan saat ini. Semuanya begitu tak meyakinkan bagiku. Namun, ku terus tegaskan diriku tuk pergi mengikuti mereka.
Matahari yang kembali ke ufuk barat, membuat langit menjadi gelap. Seakan, mereka tau ketakutan yang terpendam di hatiku saat ini. Mengendap-endap di balik pohon, yang tak terlihat oleh mereka dikala malam mulai datang.
“Mau kemana kah ini??” Tanyaku dalam hati.
Tak ada yang menjawab, hanya terdengar suara angin yang menggesek daun hitam dan jangkrik yang bernyanyi kegirangan. Ya sudah, ku terbang terus mengikuti Mogi dan Makhluk itu agar tak kehilangan jejak.
Suasana malam yang gelap dan dingin membuat perutku lapar. Namun, jika ku berhenti sejenak, aku akan ketinggalan tapi jika perutku kosong, ku tak bisa terbang.
“ Apa yahh, makan atau terbang?” Tanyaku sendiri
“ Terbang ajalah mungkin nanti ada makanan” Gumamku
“Tapi kalau nggak makan nggak bisa terbang nih” Jawabku sendiri
Tiba-tiba feeling ku berkata seekor hewan bewarna putih dan kecil ada di depan sana. Ternyata benar, ada seekor tikus mungil yang ingin segera ku santap. Tapi, kraaakkkk……., terdengar suara yang tergesa-gesa dari belakangku. Ku terkejut, ternyata ku terperangkap dalam sangkar lain makhluk berakal itu.
“ Gawat ini, apa yang mesti ku lakukan. Aku nggak mau terkurung disini, apalagi menjadi binatang rumahan mereka. Ihhh, envy bener kalau itu terjadi.” Gumamku
Namun tiba-tiba, terlihat makhluk berakal itu menemui seorang anak yang lucu.
“Papa, papa apa itu?” tanyanya dengan lugu.
“Ini namanya burung hantu.” Jawab makhluk berakal itu dengan lembut.”
“Papa, burungnya ada dua yah, untuk apa? saya mau satu papa.” Pintanya
Lalu sangkarku diberikan kepada anak kecil itu. Ia mengajakku bermain dengan girangnya. Awalnya aku takut bertemu dengannya, tapi ia lah malaikatku. Ia memberi tau ku cara keluar dari kurungan ini. Karena hari yang semakin malam, anak kecil itu pun tertidur dihandapanku. Beruntungnya, ia lupa menutup pintu utama kurungan ini. Ketika keluarga makhluk berakal itu mulai memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpinya, aku segera beraksi. Ku hepakkan sayapku keluar dari kurungan ini dan segera mencari Mogi untuk menyelamatkannya.
Ketegangan yang terjadi malam ini membuat jantungku berdetak lebih kencang, tak seperti biasanya. Namun sedikit terendam, ketika ku menemukan sahabatku, Mogi.
“ Mogi, aku disini.” Panggilku dengan pelan.
“Owl…..” Teriaknya
“Hushhh.. diam jangan berisik nanti mereka bangun.” Kataku
Dengan buru-buru ku coba lepaskan Mogi dari sangkar emas ini. Ku coba hentakkan kaki ku ke pintu sangkar itu dan ternyata tidak bisa. Ku coba berpikir sejenak dan mencari tau cara yang tepat. Tiba-tiba tak sengaja, Prakkkk,,, sebuah pas bunga jatuh.
“ Siapa itu?” Teriak makhluk berakal.
“ Owl, cepat sebelum makhluk itu datang.” Teriak Mogi kepada ku
Tersentak ku teringat ketika anak kecil itu membukakan pintu sangkarku. Aku segera menggunakan kaki dan paruhku tuk mengangkat kayu kecil sebagai penghalang pintu sangkar ini. Terdengar suara hentakkan kaki makhluk berakal itu menuju ke arah kami. Ku keluarkan semua tenagaku demi Mogi, agar ia bebas dari kurungan ini. Syukurlah, pintunya terbuka. Namun, makhluk berakal itu sudah berada tepat dibelakang kami dengan membawa benda yang mengeluarkan biji besi panas. Segera kami kepakkan sayap dan terbang menjauh dari tempat itu dengan hati yang cemas.
“ Gawat, burungnya terbang.” Teriak makhluk berakal itu.
Door….doorrr… tembakkan peluru menghantam kepergian kami. Makhluk berakal itu pun mengejar kami di tengah malam yang penuh dengan kegelapan. Untunglah, kami bisa melihat dikala mereka tak bisa melihat. Malam yang begitu gelap membuat mereka sulit menemukan kami.
“Uhhhhh,, selamat.” Gumam Mogi.
Kami pun memutuskan untuk segera pulang sebelum malam meninggalkan langit. Beruntungnya lagi, aku tau jalan pulang. Yahh begitu lah, aku memang burung yang pintar. Ku jatuhkan kotoranku di setiap jalan sebagai tanda ku pernah melewatinya. Begitulah, aromanya yang khas membuat ku tau inilah jalan yang pernah ku lewati sebelumnya.
Di penghujung malam ini, kami temukan hutan mahoni. Hutan yang begitu nyaman bagi kami dan keluarga kami. Walau tak sampai 24 jam, aku sangat merindukan rumahku ini, apalagi kamarku. Disana lah ku habiskan waktu siangku tuk menghilangkan kepenakan di waktu malamku.
Ayam jago pun mulai berkokok tanda malam tlah berakhir. Segera ku lemaskan oto-otot sayapku di atas kasur dan mulai memejamkan mataku. Melupakan semua petualangan yang terjadi semalam dan berharap semua akan ada hikmanya.
“Moy-moy”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar