Selasa, 20 Agustus 2013

TWO WORDS
            “SELAMAT PAGI”. Yah itulah dua kata yang selalu ku ucapkan ketika mataku terbuka dan terbangun dari mimpi malamku. Aku tau tak seorang pun mendengarnya, walau terlihat ribuan langkah kaki berkeliling di sekitarku. Tapi tak apalah, dua kata yang begitu sederhana menjadi cahaya semangat bagiku tuk mengawali hari-hari di hidup ini.
            Sunyi, sepi dan sendiri selalu terasa di hidupku. Berada di bawah sebuah ranting pohon yang ringan. Terperangkap dalam ruangan kecil tanpa cahaya. Tak banyak yang bisa kulakukan, sekedar tuk melemaskan otot-ototku pun begitu sulit rasanya. Hanya dua kata yang mampu menompang diri berada disini “SABAR dan YAKIN”
            Begitulah, ini adalah tahap kehidupan yang mesti ku lalui. Dimana ku harus menahan keegoisan dan ketidakpedulianku dalam wujud lama menjadi wujud yang berbeda. Inilah aku, seekor ulat yang harus melewati ujian akhir untuk menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Memang sulit dan butuh waktu untuk mewujudkannya. Namun percayalah, keyakinan dan kesabaran akan mewujudkan semua keinginan.
            Oh yah… ku teringat cerita pendahuluku waktu itu. Mereka bilang, untuk lulus ujian pada tahap akhir ini perlu kerja keras, sabar, disiplin dan pasrah kepada pencipta.
“Ehmmm… sepertinya semua itu mesti ku lakukan”. Gumamku
Semua tak berjalan mulus seperti yang ku kira. Banyak rintangan yang datang dikala ku mulai mencoba. Awalnya ku tersenyum, ketika anak-anak lucu itu mau bermain di dekatku. Tawa dan lelucon mereka seakan mengajakku tuk bermain bersama mereka.
Namun, semua itu awal dari sebuah masalah. Ku tau mereka tak berniat menggangguku, namun bola itu selalu mengarah ke pohonku, menggoyangnya dan meruntuhkan sebagian ranting-ranting dan daun dari pohonku ini. Memang pohonku tak begitu besar. Makanya, mereka tak pernah menganggap pohonku ini ada. Apalagi aku, kecil, putih dan tergantung disalah satu rantingnya. Tak kan terlihat oleh mereka.
“Pusing…” Teriaku
Itulah yang kurasakan setiap kali bola itu datang menghantam pohonku. Sebenarnya ku ingin marah dan berkata, aku ada disini. Namun, semua itu tak bisa ku lakukan, hanya kesabaranlah yang mesti kutanamkan dalam hati ku ini.  
Hari demi hari kulewati dengan aneka ragam masalah yang berbeda. Yah inilah hidup, ketika ku ingin sempurna ku harus lewati masa-masa suram dahulu. Hari ini tak banyak berbeda dari hari kemarin. Hanya saja, anak-anak waktu itu tak sama dengan hari ini. Kali ini seeorang anak perempuan yang cantik, duduk disebelah pohon tempat tinggalku. Ia sedang bermain dengan boneka barbienya yang lucu. Awalnya aku senang, ketika ia datang dan menemaniku dikala aku mulai kesepian. Namun karena bentukku yang lucu, sepertinya ia ingin menyentuhku. Merasakan begitu hangatnya selimut putih di tubuhku yang mungil ini.
“Tuhan, semoga ia menjadi sahabatku dikala aku selalu merasa kesepian dan dikala ku merasa bahagia.” Doa ku
Tiba-tiba ia semankin mendekat, melihatku dan mencoba ingin menyentuhku. Tapi matanya seakan tak tega, mendekatkan jari-jari mungilnya ke tubuhkku ini. Ia pun mencoba menahan ketika jari-jari itu hampir mendekatiku.
“Barbie, ini apa yah. Kenapa ia bergantung disini, sendirian lagi.” Tanya anak perempuan itu pada barbienya.
            Lalu anak perempuan itu pergi dari hadapanku, dan mencoba menanyakan kepada kakaknya tentang diriku.
            “Kakak, ini apa?” Tanya anak itu pada kakaknya
“Ini bukan apa-apa dek, hanya kapas yang telilit di ranting pohon.” Jawab kakak anak perempuan itu.
“Tapi, sepertinya ia hidup kak.” Sanggah anak perempuan itu
“Ini nggak penting, lebih baik kamu pulang dan main saja dengan Barbie mu sana.” Tegas kakaknya
Ia pun pulang kerumah dan sekilas membalikkan kepalanya ke arahku. Seakan ia ingin mengucapkan selamat tinggal padaku.
Keesokan harinya ia datang lagi kemari. Membawa kertas yang penuh dengan coretan gambar dari tangganya. Di dalamnya terlukis indah gambarku yang tergantung di ranting pohon ini.
“Apakah dia tau sekarang siapa aku?” Tanyaku
Yah dia tak mungkin mendengar, tapi hanya naluri yang bisa menjawab semua pertanyaanku tentang dirinya.
“Dek, kamu disini. Mama cari kamu terus. Makan dulu sana ada ambon ayam, kesukaanmu.” Seru kakaknya
“Nggak aku mau disini, aku nggak mau pergi.” Jawab anak perempuan itu dengan tegas.
“Apa sih yang menarik dari kapas ini. Bentuknya pun nggak jelas. Menjijikan tau. Kalau adek nggak percaya, bongkar aja kapas itu”. Teriak kakaknya
Air mataku pun jatuh, membasahi tubuh ini yang sebentar lagi akan berubah wujud. Memang tak ada yang menyadari hidupku saat ini. Di tengah perjuangan, melawan takdir yang telah tergoreskan hanya untuk menjadi wujud yang sempurna. Berharap seseorang tlah menungguku disana, namun sepertinya tak ada. Mungkin, hanya alam lah yang menyaksikan perubahan wujudku kali ini.
Waktu yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Selimut putih yang sekarang berubah penuh warna tlah menampakkan sayap indahku yang masih terikat dalam kulit kepompong. Ku coba membuka kulitnya dengan susah payah, hati-hati dan sedikit rasa sakit dan pedih bila kurasakan. Namun ku coba yakin dalam hati bahwa ini semua akan segera berakhir. Sedikit demi sedikit sayapku tlah memecahkan kulit lamaku dan akhirnya…..
            “TERIMA KASIH” itulah dua kata yang ku ucapkan pertama kali disaat sepasang sayapku tlah menunjukkan keindahannya. Air hujan yang semalam jatuh, masih tergenang di tanah yang cokelat ini. Air itu menjadi cermin pertama yang membuatku tau bahwa begitu cantiknya diriku saat ini. Goresan warna-warna yang indah terlukis di sayapku. Seakan menunjukkan kepadaku, betapa besar karunia-Nya pada makhluk kecil sepertiku.
“Tuhan, inikah aku. Begitu cantiknya diriku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah melukiskan paduan warna alam di sepasang sayapku ini. “ Syukurku.

Tiba-tiba anak perempuan waktu itu datang kembali, berlari menuju sisa kulit kepompongku yang masih tergantung di ranting pohon itu.
“Mana yah, kenapa jadi gini. Siapa sih orang yang tega merusak makhluk yang tak berdosa ini .” Tangis anak perempuan itu.
Aku pun terbang menuju anak perempuan itu. Hatiku tak tega, ketika melihat ia bersedih. Aku sadar hanya ia yang mengerti aku, walau sebenarnya ia tak mengenalku. Aku pun turun menuju jari-jari mungil tangan anak itu. Ia pun terkejut dan serentak menghempaskanku dari jari tangannya.
“Maaf kupu-kupu aku terkejut. Kenapa kamu disini, kamu datang dari mana. Kemarin aku tak melihatmu disini.” Tanyanya dengan lembut.
Andai aku bisa bicara dengan anak perempuan itu, betapa ku ingin mengatakan inilah aku. Aku, si makhluk kecil yang dulu terkurung oleh selimut putih yang tebal ,tergantung di ranting pohon itu dan sekarang tlah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Tapi semuanya tak mungkin terjadi, mungkin hanya Tuhan yang dapat menyatuhkan kami kembali.
Tiba-tiba datang seorang makluk sejenis anak itu yang ia panggil mama.
“Mama, mana putih-putih yang tergantung disini. Ia hilang ma.” Tanyanya dengan sedih.
“Adek, ini kepompong namanya. Dulu ia memang tinggal disini, tapi sekarang ia telah pergi dan berubah menjadi kupu-kupu yang indah.” Jawab mamanya
“Jadi, kupu-kupu itu sahabatku ya ma.” Serunya.
“Tuhan, maafkan aku. Tolong sampaikan padanya, betapa cantiknya ia dengan wujudnya yang baru saat ini.” Gumamnya dalam hati.
Anak perempuan itu pun tlah mengenalku. Aku senang sekarang ia tau kalau inilah aku, sahabatnya yang telah berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Oh yah di akhir pertemuan ini, ku ingin ucapkan dua kata untuknya “SELAMAT TINGGAL”, walau ku tau ia tak akan mendengarnya. Namun aku yakin, Tuhan kan menyampaikan padanya bahwa aku sangat bersyukur ketika aku pernah menemukan makhluk lucu sepertinya.

“Moy-moy”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar