TWO WORDS
“SELAMAT
PAGI”. Yah itulah dua kata yang selalu ku ucapkan ketika mataku terbuka dan
terbangun dari mimpi malamku. Aku tau tak seorang pun mendengarnya, walau terlihat
ribuan langkah kaki berkeliling di sekitarku. Tapi tak apalah, dua kata yang begitu
sederhana menjadi cahaya semangat bagiku tuk mengawali hari-hari di hidup ini.
Sunyi,
sepi dan sendiri selalu terasa di hidupku. Berada di bawah sebuah ranting pohon
yang ringan. Terperangkap dalam ruangan kecil tanpa cahaya. Tak banyak yang
bisa kulakukan, sekedar tuk melemaskan otot-ototku pun begitu sulit rasanya. Hanya
dua kata yang mampu menompang diri berada disini “SABAR dan YAKIN”
Begitulah,
ini adalah tahap kehidupan yang mesti ku lalui. Dimana ku harus menahan
keegoisan dan ketidakpedulianku dalam wujud lama menjadi wujud yang berbeda.
Inilah aku, seekor ulat yang harus melewati ujian akhir untuk menjadi kupu-kupu
yang sangat indah. Memang sulit dan butuh waktu untuk mewujudkannya. Namun
percayalah, keyakinan dan kesabaran akan mewujudkan semua keinginan.
Oh
yah… ku teringat cerita pendahuluku waktu itu. Mereka bilang, untuk lulus ujian
pada tahap akhir ini perlu kerja keras, sabar, disiplin dan pasrah kepada
pencipta.
“Ehmmm… sepertinya semua itu
mesti ku lakukan”. Gumamku
Semua tak berjalan mulus seperti
yang ku kira. Banyak rintangan yang datang dikala ku mulai mencoba. Awalnya ku
tersenyum, ketika anak-anak lucu itu mau bermain di dekatku. Tawa dan lelucon mereka
seakan mengajakku tuk bermain bersama mereka.
Namun, semua itu awal dari
sebuah masalah. Ku tau mereka tak berniat menggangguku, namun bola itu selalu
mengarah ke pohonku, menggoyangnya dan meruntuhkan sebagian ranting-ranting dan
daun dari pohonku ini. Memang pohonku tak begitu besar. Makanya, mereka tak
pernah menganggap pohonku ini ada. Apalagi aku, kecil, putih dan tergantung
disalah satu rantingnya. Tak kan terlihat oleh mereka.
“Pusing…” Teriaku
Itulah yang kurasakan setiap
kali bola itu datang menghantam pohonku. Sebenarnya ku ingin marah dan berkata,
aku ada disini. Namun, semua itu tak bisa ku lakukan, hanya kesabaranlah yang
mesti kutanamkan dalam hati ku ini.
Hari demi hari kulewati dengan
aneka ragam masalah yang berbeda. Yah inilah hidup, ketika ku ingin sempurna ku
harus lewati masa-masa suram dahulu. Hari ini tak banyak berbeda dari hari
kemarin. Hanya saja, anak-anak waktu itu tak sama dengan hari ini. Kali ini seeorang
anak perempuan yang cantik, duduk disebelah pohon tempat tinggalku. Ia sedang bermain
dengan boneka barbienya yang lucu. Awalnya aku senang, ketika ia datang dan menemaniku
dikala aku mulai kesepian. Namun karena bentukku yang lucu, sepertinya ia ingin
menyentuhku. Merasakan begitu hangatnya selimut putih di tubuhku yang mungil
ini.
“Tuhan, semoga ia menjadi
sahabatku dikala aku selalu merasa kesepian dan dikala ku merasa bahagia.” Doa
ku
Tiba-tiba ia semankin mendekat,
melihatku dan mencoba ingin menyentuhku. Tapi matanya seakan tak tega,
mendekatkan jari-jari mungilnya ke tubuhkku ini. Ia pun mencoba menahan ketika
jari-jari itu hampir mendekatiku.
“Barbie, ini apa yah. Kenapa ia
bergantung disini, sendirian lagi.” Tanya anak perempuan itu pada barbienya.
Lalu
anak perempuan itu pergi dari hadapanku, dan mencoba menanyakan kepada kakaknya
tentang diriku.
“Kakak,
ini apa?” Tanya anak itu pada kakaknya
“Ini bukan apa-apa dek, hanya
kapas yang telilit di ranting pohon.” Jawab kakak anak perempuan itu.
“Tapi, sepertinya ia hidup
kak.” Sanggah anak perempuan itu
“Ini nggak penting, lebih baik
kamu pulang dan main saja dengan Barbie mu sana.” Tegas kakaknya
Ia pun pulang kerumah dan
sekilas membalikkan kepalanya ke arahku. Seakan ia ingin mengucapkan selamat
tinggal padaku.
Keesokan harinya ia datang lagi
kemari. Membawa kertas yang penuh dengan coretan gambar dari tangganya. Di
dalamnya terlukis indah gambarku yang tergantung di ranting pohon ini.
“Apakah dia tau sekarang siapa
aku?” Tanyaku
Yah dia tak mungkin mendengar,
tapi hanya naluri yang bisa menjawab semua pertanyaanku tentang dirinya.
“Dek, kamu disini. Mama cari
kamu terus. Makan dulu sana ada ambon ayam, kesukaanmu.” Seru kakaknya
“Nggak aku mau disini, aku
nggak mau pergi.” Jawab anak perempuan itu dengan tegas.
“Apa sih yang menarik dari
kapas ini. Bentuknya pun nggak jelas. Menjijikan tau. Kalau adek nggak percaya,
bongkar aja kapas itu”. Teriak kakaknya
Air mataku pun jatuh, membasahi
tubuh ini yang sebentar lagi akan berubah wujud. Memang tak ada yang menyadari
hidupku saat ini. Di tengah perjuangan, melawan takdir yang telah tergoreskan
hanya untuk menjadi wujud yang sempurna. Berharap seseorang tlah menungguku
disana, namun sepertinya tak ada. Mungkin, hanya alam lah yang menyaksikan
perubahan wujudku kali ini.
Waktu yang ku tunggu-tunggu
telah tiba. Selimut putih yang sekarang berubah penuh warna tlah menampakkan
sayap indahku yang masih terikat dalam kulit kepompong. Ku coba membuka
kulitnya dengan susah payah, hati-hati dan sedikit rasa sakit dan pedih bila
kurasakan. Namun ku coba yakin dalam hati bahwa ini semua akan segera berakhir.
Sedikit demi sedikit sayapku tlah memecahkan kulit lamaku dan akhirnya…..
“TERIMA
KASIH” itulah dua kata yang ku ucapkan pertama kali disaat sepasang sayapku
tlah menunjukkan keindahannya. Air hujan yang semalam jatuh, masih tergenang di
tanah yang cokelat ini. Air itu menjadi cermin pertama yang membuatku tau bahwa
begitu cantiknya diriku saat ini. Goresan warna-warna yang indah terlukis di
sayapku. Seakan menunjukkan kepadaku, betapa besar karunia-Nya pada makhluk
kecil sepertiku.
“Tuhan, inikah aku. Begitu
cantiknya diriku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah melukiskan paduan warna alam
di sepasang sayapku ini. “ Syukurku.
Tiba-tiba anak perempuan waktu
itu datang kembali, berlari menuju sisa kulit kepompongku yang masih tergantung
di ranting pohon itu.
“Mana yah, kenapa jadi gini. Siapa
sih orang yang tega merusak makhluk yang tak berdosa ini .” Tangis anak
perempuan itu.
Aku pun terbang menuju anak
perempuan itu. Hatiku tak tega, ketika melihat ia bersedih. Aku sadar hanya ia
yang mengerti aku, walau sebenarnya ia tak mengenalku. Aku pun turun menuju jari-jari
mungil tangan anak itu. Ia pun terkejut dan serentak menghempaskanku dari jari
tangannya.
“Maaf kupu-kupu aku terkejut.
Kenapa kamu disini, kamu datang dari mana. Kemarin aku tak melihatmu disini.”
Tanyanya dengan lembut.
Andai aku bisa bicara dengan
anak perempuan itu, betapa ku ingin mengatakan inilah aku. Aku, si makhluk
kecil yang dulu terkurung oleh selimut putih yang tebal ,tergantung di ranting
pohon itu dan sekarang tlah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Tapi
semuanya tak mungkin terjadi, mungkin hanya Tuhan yang dapat menyatuhkan kami
kembali.
Tiba-tiba datang seorang makluk
sejenis anak itu yang ia panggil mama.
“Mama, mana putih-putih yang
tergantung disini. Ia hilang ma.” Tanyanya dengan sedih.
“Adek, ini kepompong namanya. Dulu
ia memang tinggal disini, tapi sekarang ia telah pergi dan berubah menjadi
kupu-kupu yang indah.” Jawab mamanya
“Jadi, kupu-kupu itu sahabatku
ya ma.” Serunya.
“Tuhan, maafkan aku. Tolong
sampaikan padanya, betapa cantiknya ia dengan wujudnya yang baru saat ini.”
Gumamnya dalam hati.
Anak perempuan itu pun tlah
mengenalku. Aku senang sekarang ia tau kalau inilah aku, sahabatnya yang telah
berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Oh yah di akhir pertemuan ini, ku ingin ucapkan
dua kata untuknya “SELAMAT TINGGAL”, walau ku tau ia tak akan mendengarnya. Namun
aku yakin, Tuhan kan menyampaikan padanya bahwa aku sangat bersyukur ketika aku
pernah menemukan makhluk lucu sepertinya.
“Moy-moy”